Dimulai dengan kepergian room-mate saya berlibur di sebuah resort yang agak jauh, maka saya ditinggalkan sendirian home alone kayak anak terlantar (berhubung biaya nginap di resort itu mahal, saya langsung mengabsenkan diri dari daftar kehadiran liburan itu). Sedangkan, teman-teman student exchange lainnya masih pada ngorok di kamar masing2 karena kecapean semalam menjelajah kebun ular (dari namanya saja, saya sudah merasa geli :D).
Saya sengaja mengambil kesempatan ini buat mencoba
nge-bolang (bocah petualang) sendirian di tengah kota Bangkok yang luas ini.
Soalnya selama ini, kami para exchange
student (ES) selalu didampingi Thai Buddies (mahasiswa universitas KMUTT yang
membantu para ES selama masa orientasi di Thailand) dalam segala aktivitas
jalan-jalannya.
Maka setelah meditasi beberapa menit (cuma beberapa menit, ga kayak Lizen, salah satu ES yang
konon katanya, kata dia sendiri malah, meditasi berjam-jam setelah digoda
bencong Thailand di 7 Eleven), saya memutuskan hari ini
saya akan pergi ke Chatuchak Market.
Market seperti apa sih Chatuchak Market
itu? Market tersebut adalah market yang menjual segala cheap stuff yang berbau
Thailand. Jadi biasanya banyak suvenir yang bisa dibeli di situ. Seharian saya
udah denger banyak banget pengunjung yang berbicara dalam bahasa Indonesia.
Ternyata kawan-kawan setanah air beli suvenirnya di Chatuchak Market. Karena
harganya murah, bisa dibagi-bagi ke temen satu kampung tanpa merobek kantong
(dengan sadis) ... :p
Flashback. Akhirnya jam 11 pagi, pakaian udah rapi, badan udah wangi,
dan map udah di tangan. Saya lihat peta,
titik awalnya dari Pracha Utit 21 (dorm kami), tapi perasaan kok jauh banget ya
dari jalur BTS (sky train)? Karena bingung sendiri, akhirnya saya datengin pemilik
Bistro di lantai 1. Tanya-tanya sebentar, akhirnya ketahuan kalo
Pracha Utit yang ada di peta itu berada di distrik yang lain. Jadi Pracha Utit
road itu ada bejibun di Thailand, bahkan Pracha Utit kami ga ada di dalam peta
itu (anehnya saya dapat peta itu dari kampus).
Akhirnya Pi Aeh dan Pi Yam
(pemilik bistro), ngejelasin gimana cara pergi ke Chatuchak, malah petanya
digambarin sekaligus nomor bus dan berhentinya dimana (bonusnya: dikasih nomor
telepon kalo ada yang mau ditanya).
Keluar dari daerah dorm, saya ambil bus 75 dan bertolak ke Big C. Dan
dari Big C, ambil bus nomor 76 ke daerah Krung Thonburi Road. Dari sana, lanjut
ke jalur BTS (stasiun Wongwan Yai) dan ambil tiket ke Stasiun Mo Chit (42 baht = 14700 rp), stasiun terdekat dari Chatuchak. FYI, Letak stasiun Wongwan Yai dan
Stasiun Mo chit ini dari ujung ke ujung. Jadi saya melewati 14 stasiun sebelum
sampai ke stasiun Mo Chit. Bisa dibayangkan betapa jauhnya tempat yang saya
tuju kali ini.
Sesampainya di Stasiun Mo Chit, langsung
kelihatan padatnya daerah Chatuchak, apa aja ada di sana, dari pengemis sampe
pemain saxophone jalanan juga ada. Masuk ke Chatuchak, yang kerasa pertama kali
adalah hawa panasnya, udah padat, panas, semua orang berebut oksigen,
lengkaplah sudah. Tapi semua pengorbanan itu terbayar karena banyak yang bisa
dilihat dan diamati di sana.
Galeri. Salah satunya adalah galeri artis-artis
yang memampang banyak sekali creative painting yang profesional banget.
Biasanya artisnya duduk di galerinya sendiri, jadi bisa tanya-tanya. Ada 2
galeri yang paling saya suka. Galeri 1, karya (lupa namanya)... Ini nih karya-karyanya:
Dan Galeri 2, draw in illustrator (namanya lupa
juga) dengan karya-karya ini:
Draw in Illustrator ini ramah banget dan
bilang: “If you wanna take a photo, please take the picture of the art
only, not including me. I’m not comfortable with social networking.” Tapi dia
ngomong ini sambil berpose. Sambil ketawa, saya motret dia beserta karyanya dan
ngomong, “That’s okay, I’ll post it on facebook, twitter and instagram.”
Topi.
Setelah itu, saya berenang di antara
lautan topi super murah yang harganya Cuma 30 baht (10500 rp), setelah
lama-lama memilih sampe yang punya muak ngeliat saya mondar-mandir aja,
akhirnya saya beli topi-saya-bundar berwarna cokelat. Lumayan...
Thai Massage. Setelah itu, saya nyari second-hand book
store dan setelah menjelajah kemana-mana, akhirnya.. ga ketemu juga. Tiba-tiba
di samping saya, ada orang jepang yang tersesat terus nanya direction ke tukang
buah (orang India) pake bahasa Inggris.
Dan si orang India menjawab dengan
logat indianya yang sekental kecap. Setelah si orang Jepang selesai nanya, saya
langsung samperin itu orang nehi-nehi dan langsung tanya di mana second-hand
book store,
“Oo.. Ok, OK, Al tel yuu wheree the second-hand
buuk stoo... Yu siii hir,”
sambil nunjukin board gede gambar peta Chatuchak di belakang gerobaknya,
“We are hierrr... Ent the second-hand buuk stoo der in seksien 27, jassd go to the menstlit, fo-low deload antil yuuu faaaaain de colnel”
sambil nunjukin board gede gambar peta Chatuchak di belakang gerobaknya,
“We are hierrr... Ent the second-hand buuk stoo der in seksien 27, jassd go to the menstlit, fo-low deload antil yuuu faaaaain de colnel”
(Translation: We are here, and the
second-hand book store there in section 27. Just go to the mainstreet and
follow the road until you find the corner)
Mending dia pake bahasa tubuh aja deh ngejelasinnya daripada pake kata-kata yang malah bikin bingung. #tepokJidat
Mending dia pake bahasa tubuh aja deh ngejelasinnya daripada pake kata-kata yang malah bikin bingung. #tepokJidat
Setelah nyampe di second-hand book store,
saya ketemu Thai Massage, dan karena paha saya pegel, mungkin akibat hampir 2
minggu jalan-jalan terus tanpa istirahat, saya delay dulu ngeliat liat buku dan
langsung ber-massage-ria.
Yang mijit saya adalah ibu-ibu tomboy yang
tenaganya ngalahin kuda. Sebelum mijit dia nanya, mau sejam apa 45 menit (harganya
beda tergantung durasi).
Saya langsung bilang: “45 minutes!”
Tapi dia langsung narik kaki saya dan mulai mijit dan aduhaaaaaiiii... enaknya,
lalu dia bilang: “1 hour is good...” Sialan! Dia pake trik!
“Ok, ok, 1 hour..” akhirnya saya menyerah pada kehidupan Thai Massage yang licik ini. Hahaha :D
Saya langsung bilang: “45 minutes!”
Tapi dia langsung narik kaki saya dan mulai mijit dan aduhaaaaaiiii... enaknya,
lalu dia bilang: “1 hour is good...” Sialan! Dia pake trik!
“Ok, ok, 1 hour..” akhirnya saya menyerah pada kehidupan Thai Massage yang licik ini. Hahaha :D
Ini dia ibu-ibunya:
Suvenir.
Setelah itu, saya liat-liat buku dan... ga beli. Hehehe :p Soalnya uang saya udah kepake banyak buat ongkos doang. Yang penting kan pengalamannya #MenghiburDiri
Setelah 3 jam jalan tanpa henti, saya
duduk sebentar beli Orange Juice sambil ngeliat-liat situasi pasar itu. Ngeliat
bunga-bunga plastik (saya ambil fotonya, soalnya emak saya suka bunga), dan
orang dari berbagai negara sibuk ngomong pake bahasa nenek moyangnya sendiri.
Saya kembali jalan dan sight-seeing (bahasa
kerennya orang yang kepengen beli tapi ga punya uang :D) suvenir dan tas-tas
yang keren. Harga di sini rata-rata murah, tapi untuk barang yang branded,
harga tetap sama. Ada backpack keren yang kepengen saya beli, tapi ternyata
harganya, hehehe... you know what I mean. Ini salah satu toko tas kulit yang
saya samperin.
Bule Bego. Setelah 6 jam
berlanglang Chatuchak, akhirnya, saya malah beli mangkok (40
baht) (mangkok itu perlu buat anak kos) dan pembatas buku (3 biji 60 baht) (pasti
berguna buat diselipin di surat, biar ada Thai touch-nya). Setelah itu saya pulang ngambik rute BTS lagi.
Ngomong-ngomong soal BTS, saya seneng ngeliat sistem kerja BTS, karena
jujur ini adalah pengalaman pertama saya naek sky train, and I’m excited!
Dan ada cerita lucu dan
menyebalkan tentang perjalan pulang saya di rute BTS.
BTS 101: Lihat peta rute BTS,
pencet nomor yang tertera di stasiun yang dituju, lalu masukin koin sesuai
dengan angka tersebut.
Dan ada bule bego yang super bego dan bego. Dia masukin koinnya dulu baru mencet nomornya. Terus dia sadar sendiri kalo belum pencet nomor, lalu mencet tombol cancel berjuta-juta kali. Aduh mas bule, ya mana keluar koinnya. Ga rela koin 10 bahtnya di telan mesin tiket BTS yang buncit karena sering makan uang haram (NB: mesin ini sering error, beberapa kali saya liat layar mesinnya error setelah orang udah masukin koin), dia tekan lagi tombol cancel-nya sampe akhirnya... “***ERROR***” kata layar mesinnya. SEMUA orang yang ngantri, termasuk saya jadi pindah ngantri ke mesin sebelah yang antriannya sendiri udah panjang. Petugas datang, dan semua jadi heboh. Dasar...
Dari BTS, saya ngambil bus dan sempat
tersesat karena saya stop di Big C yang salah (banyak Big C di sini), tapi untunglah saya bisa ngontact Pi Aeh dan Pi Yam sampai saya
pulang dengan selamat ke dorm saya.
Maka berakhirlah perjalanan nge-bolang. :D
Maka berakhirlah perjalanan nge-bolang. :D


