Dengan gerakan lunglai dia men-starter motornya, dan desing motor di jalan besar menghardik pikirannya yang melayang kemana-mana. Malam itu dingin, dan menggusarkan hati.
Sepanjang jalan, dahinya berkerut, matanya kelihatan sedih teringat kejadian di kelas tadi:
Sudah satu jam ujian berjalan dan tinggal setengah jam lagi sebelum jarum pendek menuju angka delapan. Tinggal satu soal lagi sebelum kertas jawaban dikumpul. Angka-angka olahan rumus statistika sudah tertera dengan mentereng dengan font super necis di atas kertas, pamer diri mereka.
Sang pengolah angka-angka tadi bertanya ke teman sebelahnya disela-sela mata pengawas ujian yang nanar melihat peserta layaknya jawaranya penari bali:
"Wen, jawaban rata-rata-nya berapa?"
"67.5"
"Hah? Coba bentar diitung dulu."
Dia kembali ke kalkulatornya dan dengan perasaan setengah berharap temannya salah, ia tergesa-gesa menghitung. Ternyata layar kalkulator nan tak tahu diri itu memang tak bernurani, memamerkan angka yang jauh berbeda dengan miliknya. Artinya: Dia harus kembali mengerjakan semua dari awal kembali. Karena kesalahan penghitungan ada di rumus awal yang menjadi pondasi rentetan rumus setelahnya.
Selebihnya, yang ia ingat cuma degupan jantung panik, kertas jawaban teman yang dicontek, mata-mata yang bingung menatapnya dan angka-angka yang diolah kembali (dicontek) dari awal.
Back to present. Matanya melihat jauh ke depan, ke jalanan malam kota Batam yang kelihatan remang (iyalah, namanya juga malem-malem). Ia akhirnya sampai di kawasan agak tinggi dan full-rujak :) . 15 gerobak dan lebih berjejer menjual rujak dari siang sampai malam larut (p.s: kalo malem, ada jagung bakarnya) berderet minta perhatian tiap calon pembeli yang lewat.
Satu piring isi jagung bakar sudah tersedia di atas meja ditambah bumbu pemandangan kota Batam yang (sialnya) tertutup pohon-pohon besar. Dia selalu seperti itu. Jika ada yang meresahkan hatinya, pasti larinya ke makanan sambil merenung sendirian. Pernah suatu hari karena sesuatu hal, sangking kesalnya, dia beli satu box es krim besar dan makan sendirian sambil mandang langit malam dari balkon kamarnya.
Setelah jagung bakarnya R.I.P, ia pergi lagi menhirup udara dingin yang lama-lama jadi terasa segar, penatnya hilang satu demi satu.
Jalan-jalan dikit lagi ah. Perjalanan ke rumah diberinya durasi lebih lama dari hari-hari biasa dan ia membelokkan motornya, kembali mencari dataran yang lebih tinggi dari yang sebelumnya.
Namanya Bukit Senyum. Ibunya dulu pernah berkata begitu.
Tempat ini terkenal karena dari sana, nampak setengah kota batam menghampar jauh, lalu laut dan yang paling dicari orang: pemandangan Singapura. Ya, dari tempat ini, nampak gedung-gedung negara tetangga yang taat peraturan itu, berjejer, lanskap nan panjang, ditambahi lampu-lampu terang beratus-ratus kilometer jauhnya.
Di sana, ada sebuah tempat makan outdoor yang anehnya sepi (kosong), hanya beberapa pasang meja dan kursi kosong yang membosankan.
Padahal pemandangannya bagus benget, kok sepi.
Pemiliknya datang dan iapun membuat pesanan makanan. Dia satu-satunya pengunjung di malam itu dan,
lucky, katanya. Yang dibutuhkan seseorang yang sedang gusar memang kesendirian, apalagi udara dingin ditambah pemandangannya bagus.
Bikin mellow. Lagu '
I wouldn't mind' dari band kesukaannya,
He is We bikin hati tambah hanyut dalam sengsara romantis (hihihi).
Sang pemilik rumah makan menyuguhkan makanan kesukaannya: nasi goreng sambil curhat dadakan pada aktris kita yang lagi
mellow malam ini.
"Udah sebulan ini gara-gara asep dari Pekan Baru, dagangan jadi sepi, dek."
"Oh gitu ya bu. Pantesan sepi gini. Biasanya rame kan yah di sini."
"Iya. Kemaren aja Singapura ampe ga nampak. Tak ada orang datang sini."
"Waduh. Tapi kan sekarang udah mendingan. Kemaren yang parah, sampe orang pada males mau keluar rumah."
Satu indonesia memang sekarang lagi heboh-hebohnya perkara pembakaran hutan di Pekan Baru yang bikin polusi, yang bukan hanya bikin satu kepulauan Riau resah, tapi sampai kedua negara tetangga Indonesia pada risih karena mereka juga ikutan kena.
"Iya. Ini udah agak mendingan. Tapi orang dah malas mau datang sini karna asap tu."
"Iya sih bu. Orang pada males mau keluar rumah. Orang yang dilihat asap semua."
Lalu pembicaraan mereka melantur sampai ke anak ibu pemilik angkringan, tentang tempat perjudian plus plus di daerah tersebut, tentang murahnya biaya SPP di Medan, tentang apa saja. Semua hal yang tak penting. Tapi anehnya, bisa menenangkan hati teman kita yang sedang galau ini.
"Bu, udahan dulu ya bu. Saya pulang dulu, udah malem."
"Ah, baru jam berapa juga."
"Saya takut rumah udah dikunci, bu."
"Yaudah deh.. semuanya enam belas ribu yah..."
Sepulangnya dari angkringan yang terancam bangkrut tersebut, ia kembali berpikir.
Ternyata manusia sungguh butuh teman. Karena hanya dengan berinteraksi dengan manusia lain, walau hanya membicarakan hal-hal
trivial seperti itu, dapat mengembalikan manusia ke dunia nyata dan pada detik-detik yang sedang berjalan pada saat itu, sehingga manusia lebih
aware dengan sekelilingnya dan yang paling penting, merasa hidup.
Motor sudah masuk halaman rumah, gerbang dikunci, dan semua penat sudah hilang, karena bertemu orang yang tepat di saat yang tepat.
Sayang aku ga ngambil foto di Bukit Senyum tadi biar dimasukin ke blog. Tak apalah kawan. Pengalamanmu hari ini sudah cukup untuk diingat saja.
---